Wednesday, March 26, 2025

 TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN SERAI WANGI

 

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong

Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

 

ABSTRAK

Tulisan ini mengulas beberapa rujukan yang menjelaskan prihal teknologi budidaya tanaman serai. Didalam tulisan ini juga dijelaskan akan manfaat tanaman serai sebagai bahan pestisida nabati, komoditas ekport dan status plasma nutfah dari tanaman serai yang terbaik.

 


PENDAHULUAN

Nungki Dwi, 2013 : Seiring berkembangnya penduduk dunia, kebutuhan akan minyak serai wangi semakin meningkat. Di Indonesia sendiri, terdapat 2 jenis tanaman serai yaitu serai dapur (Cymbopogon citratus) dan serai wangi (Cymbopogon nardus L.)1. Tanaman serai wangi berasal dari Srilanka dengan kondisi tanah tropis, lembab, cukup sinar matahari dan memiliki curah hujan yang cukup. Di Srilanka tumbuhan yang hidup secara liar ini biasanya memiliki nama jenis lenabatu. Pada tahun 1990, jenis serai ini datang ke Indonesia dan dibudidayakan. Sedangkan jenis lainnya adalah  mahapengiri, yang diyakini masyarakat merupakan tanaman asli Indonesia. Dalam dunia perdagangan minyak serai wangi mahapengiri yang berasal dari Indonesia disebut Java citronella oil’s. sementara minyak serai wangi berasal dari Srilanka yang dihasilkan dari jenis lenabatu disebut Ceylon citronella oil’s1. Umumnya tidak ada perbedaan yang berarti dari kedua varietas ini. Tanaman serai berdaun pita, agak kaku, pinggir daun berwarna merah atau ungu, aroma tajam dan dapat tercium dari jarak yang cukup jauh. Tetapi secara perdagangan, Java citronella oil’s lebih disukai konsumen Eropa dan Amerika karena mutu dan karakteristiknya lebih unggul dari jenis Ceylon. Varietas ini dikatakan memiliki akar yang lebih pendek, daun lebih lebar dan kurang kaku serta hasil minyak lebih banyak dari varietas lenabatu. Maka, tak heran sekarang, serai sitronella atau disebut juga “Java Type” dibudidayakan dihampir seluruh Negara tropic tak kecuali Srilanka.

Edi Rizal, 2013 : Tanaman serai wangi sudah sejak lama dibudidayakan di Indonesia. Jenis yang banyak dikenal adalah mahapengiri dan lenabatu. Tanaman serai wangi memiliki bentuk daun yang lebih lebar dibandingkan bentuk serai wangi biasa. Daunnya membentuk rumpun yang lebih besar dengan jumlah batang lebih banyak. Warna daun lebih tua (hijau tua), sedangkan serai biasa berdaun hijau muda agak kelabu. Tanaman serai wangi memiliki  nama ilmiah Cymbopogon nordus L. Klasifikasi tanaman serai wangi sebagai berikut :

Divisi                                      :  Spermatophyta

Sub divisi                                :  Angiospermae

Ordo                                       :  Graminales

Famili                                      :  Panicodiae

Genus                                      :  Cymbopogon

Spesies                                     :  Cymbopogon nardus L

 

Edi Rizal, 2013 : Tanaman serai wangi memiliki ciri – ciri sebagai berikut :

1.      Tumbuh berumpun.

2.      Akar serabut jumlah cukup banyak, mampu menyerap unsure hara dalam tanahcukup baik sehingga pertumbuhanya lebih cepat.

3.      Daun pipih memanjang menyerupai alang – alang. Pajang daun mencapai 1 meter melengkung. Lebar daun bila pertumbuhan normal antara 1 – 2 cm.

4.      Bila daun diremas tercium aroma tajam khas serai wangi.

5.      Warna daun hijau muda hingga hijau kebiru – biruan.

6.      Batang berwarna hijau dan merah keunguan.

 

Tahapan Budidaya Tanaman Serai Wangi

Nur Fatimah, S.TP, 2013 : Tahapan budidaya tanaman serai wangi sebagai berikut :

1. Persiapan bibit

2. Pengolahan tanah,

3. Penanaman.

4. Pemeliharan.

5. Peremajaan.

6. Pengendalian hama dan penyakit.

 

Persiapan Bibit

Nur Fatimah, S.TP, 2013 : Bibit serai wangi yang digunakan sebagai bahan tanam harus memenuhi beberapa kriteria antara lain :

1.      Bahan tanam harus sehat, dan bebas dari hama penyakit

2.      Bahan tanam berupa rumpun tua, sekurangnya berumur 1 tahun

3.      Bahan tanam (stek) diperoleh dengan cara memecah rumpun yang berukuran besar namun tidak beruas

4.      Sebagian pelepah daun dari stek dipotong 3 – 5 cm

5.      Sebagian akar ditinggalkan sekitar 2,5 cm di bawah leher akar

 

Pengolahan Lahan

1.      Tanah digemburkan dengan cara dicangkul sedalam 35 cm. Dan tanah yang semula dibawah dibalik ke permukaan

2.      Tanah dibersihkan dari rumput atau gulma.

3.      Lahan dibiarkan 2 – 3 hari agar tanah dapat melakukan penguapan.

4.      Buat bedengan dengan ukuran panjang + 2 m dan lebar + 1,5 cm.

5.      Lahan yang miring dibuat terasering agar humus pada permukaan tanah tidak hanyut atau terbawa oleh air hujan.

6.      Seluruh areal pertanaman diberi saluran pembuangan air agar air tidak menggenang. Hal ini dikarenakan pertumbuhan tanaman serai wangi kurang baik jika terlalu banyak air.

 

Persemaian

Nur Fatimah, S.TP, 2013 : Sebelum ditanam, bahan tanam yang berupa bibit sebaiknya disemai dahulu. Hal ini bertujuan untuk mengurangi faktor kegagalan penanaman di lapangan. Langkah membuat persemaian adalah sebagai berikut :

1. Tanah dicangkul dan dicampur pasir dengan perbandingan 2 : 1.

2. Buat bedengan dengan ukuran panjang disesuaikan dengan kondisi lapangan, lebar 80 - 120 cm, dan tinggi 25 – 50.

3. Di atas bedengan diberi pupuk kandang atau kompos secara merata.

4. Bedengan diberi pohon naungan atau diberi atap daun kelapa, alang dsb.

 

Penanaman

1.      Jarak tanam 100 x 50 cm.

2.      Buat lubang tanam dengan ukuran panjang 30 cm, lebar 30 cm, kedalaman 30 cm.

3.      Lubang tanam diberi pupuk kandang + 0,2 kg – 0,3 kg/lubang tanam.

4.      Lubang tanam dibiarkan terbuka selama 2 minggu agar mendapat sinar matahari.

5.      Tanah bekas cangkulan dimasukkan kembali ke dalam lubang seperti sediakala.

6.      Agar bibit serai wangi tidak banyak yang mati sebaiknya penanaman dilakukan pada musim hujan.

7.      Ambil 2 – 3 bibit serai wangi kemudian dimasukkan tepat di tengah lubang tanam. Posisi agak miring sekitar 600 - 700 dari permukaan tanah.

8.      Timbun bibit dengan tanah bekas galian lubang lalu tekan merata ke sekeliling tanaman.

9.      Penanaman dilakukan pada sore hari.

Pemeliharaan

1.      Penyulaman

Penyulaman dilakukan pada saat 2 – 3 minggu HST.

Lakukan penyulaman bila ada tanaman yang layu, mati atau pertumbuhan kurang sempurna

2.      Penyiangan

Pembersihan tanaman dari rumput atau gulma sebaiknya dilakukan setiap selesai panen.

Selain itu batang serai yang telah kering juga dibersihkan.

Penyiangan dilakukan pada awal maupun akhir musim penghujan karena pada waktu itu banyak gulma yang tumbuh.

3.      Pembumbunan

Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan penyiangan yang bertujuan untuk memperbaiki aerasi dan drainase tanah, selain itu juga untuk mencegah air menggenang.

4.      Pemupukan

Dosis pemupukan per ha per tahun adalah 150 – 300 kg urea. 25 – 50 kg TSP dan 125 – 250 kg KCL yang diberikan berturut-turut sebagai berikut :

Tahap I diberikan 3 kali yaitu : umur 1 bulan (37,5 – 75 kg Urea, 31,25 – 62,5 kg KCL, 20 - 25 kg TSP), umur 6 bulan (37,5 – 75 kg Urea, 31,25 – 62,5 kg KCl) dan umur 9 bulan ( 75 – 150 kg Urea, 62,5 – 125 kg KCl). Tahap II diberikan 2 kali yaitu : umur 12 bulan ( 75 – 150 kg Urea, 62,5 – 125 kg KCl, 25 – 50 kg TSP) dan pada tahun ke-3 dan ke-4.

 

Peremajaan

Nur Fatimah, S.TP, 2013 : Masa produktif tanaman serai wangi yaitu 4 tahun. Yang ditandai dengan berkurangnya rendemen minyak pada daun. Oleh karena itu, perlu dilakukan peremajaan kembali. Peremajaan dilakukan dengan cara menanam bibit pada sela-sela atau tengah barisan dari tanaman lama. Dan dilakukan pada akhir tahun ke-3. Pada akhir tahun ke-4 tanaman baru telah berumur 1 tahun lalu tanaman lama dibongkar.

 

Pengendalian Hama Penyakit

Tanaman serai wangi ini relatif tahan terhadap serangan hama dan penyakit.

 

Pemanenan

Serai wangi yang siap panen memiliki ciri-ciri : memiliki 6 – 8 lembar daun tua, daun berwarna hijau tua, daun beraroma wangi, daun lebih lentur, jika bagian bawah daun ditekuk dengan perlahan akan terlihat titik-titik minyak keluar dari pori-pori daun.

Tahapan pemanenan serai wangi sebagai berikut :

1.      Pemanenan I dilakukan pada saat tanaman berumur 7 – 8 bulan. Dan Pemanenan II saat umur 10 – 12 bulan.

2.      Setelah tahun ke-2, tanaman memasuki tanaman produktif sehingga dapat dipanen setiap 3 – 4 bulan sekali.

Penentuan waktu panen memegang kunci dalam budidaya ini. Panen yang terlambat disamping menyebabkan kadar geraniol dan sitronelal berkurang, juga menyebabkan sebagian daun layu mengering, sehingga sebagian minyak hilang. Di lain pihak, panen yang terlalu dini, justru dapat merusak kondisi tanaman dan minyaknya masih sedikit (Santoso, H.B.)

Serai wangi baik dipanen pada pagi hari jam 06.00 – 10.00 WIB dan sore hari jam 15.00 – 18.00 dengan menggunakan sabit dan jarak pemangkasan sekitar 3 – 5 cm di atas pangkal daun dan hasil panen ditumpuk di dekat rumpun tanaman, dan dikemas dalam bentuk gulungan (Rizal, E. 2011).

 

Kegunaan Serai Wangi

Tanaman serai wangi mempunyai beberapa kegunaan salah satunya adalah sebagai vegetasi konservasi yaitu potensial untuk mencegah terjadinya erosi tanah dan merehabilitasi lahan-lahan kritis (Anonim, 2007). Tanaman serai terutama batang dan daun bisa dimanfaatkan sebagai pengusir nyamuk karena mengandung zat-zat seperti geraniol, metil heptenon, terpen-terpen, terpen-alkohol, asam-asam organik, dan terutama sitronelal sebagai obat nyamuk semprot. Dan minyak serai wangi sebagai hasil produksi dari tanaman serai wangi berguna sebagai bahan bio-aditif bahan bakar minyak (Balittro, 2010).

 

 

Koleksi Serai Wangi Unggul

Sri Wahyuni, Hobir dan Yang Nuryani, 2013 : Kedelapan serai wangi tersebut merupakan koleksi yang berasal dari KP Cimanggu dan termasuk ke dalam tipe Mahapengiri. Dari delapan nomor yang dievaluasi empat nomor telah dilepas dengan keputusan menteri pertanian Nomor : 627/Kpts/TP/240/ 11/92 tertanggal 3 Nopember 1992 dengan nama serai wangi 1, serai wangi 2, serai wangi 3, dan serai wangi 4 yang berasal dari tanaman koleksi dengan kode nomor T-ANG 1, 2, 3 dan 113. Karakter penting dari varietas yang sudah dilepas tersebut disajikan pada Tabel 8. Tiga nomor lainnya yang produktivitasnya lebih tinggi belum dilepas. Untuk dapat melepas nomornomor tersebut, berdasarkan peraturan yang baru, perlu dilakukan pengujian multilokasi di beberapa daerah produksi.

 

Description: 0t8

 

                Sumber : Sri Wahyuni, Hobir dan Yang Nuryani, 2013

 

DAFTAR PUSTAKA DAN BACAAN

 

Anonim, 2013. Pemanfaatan Sereh Wangi Sebagai Tanamam Tumpang Sari Di Perkebunan Jabon. http://kebunsemeru.wordpress.com/2012/02/05/pemanfaatan-sereh-wangi-sebagai-tanamam-tumpang-sari-di-perkebunan-jabon/. Diakses tgl 6 Januari 2013.

 

Bataviareload, 2013. Panduan menanam serai. http://bataviareload.wordpress.com/daftar/pertanian/panduan-menanam-serai/. Diakses tgl 6 Januari 2013.

Edi Rizal, 2013. Pengenalan Tanaman Serai Wangi. http://edirizal24.blogspot.com/2011/05/psk-budidaya-serai-wangi.html. Diakses tgl 6 Juni 2013.

Ferry, 2013. Minyak Sereh Dapur / Lemongrass Oil. http://ferry-atsiri.blogspot.com/2006/10/minyak-sereh-dapur-lemongrass-oil.html. Diakses tgl 6 Januari 2013.

Foragri, 2013. Upaya Meraih Dollar Dari  Citronella Oil http://foragri.blogsome.com/upaya-meraih-dollar-dari-citronella-oil/. Diakses tgl 6 Januari 2013.

Fujiboga, 2013. http://myblog-alfauzi.blogspot.com/2011/08/minyak-atsiri-teknologi-budidaya-atsiri.html. Diakses tgl 6 Januari 2013.

Jabatan Pertanian Negeri Perak, 2013. Panduan menanam serai. http://www.pertanianperak.gov.my/jpp/index.php?option=com_content&view=article&id=411:panduan-menanam-serai&catid=68:manual-tanaman. Diakses tgl 6 januari 2013.

Nungki Dwi, 2013. Minyak serai wangi. http://nungkisyalalala.blogspot.com/2011/12/minyak-serai-wangi-sebagai-minyak.html. Diakses tgl 6 Januari 2013.

Nur Fatimah, S.TP, 2013.  “Serai Wangi : Tanaman Perkebunan Yang Potensial“. PBT Ahli Pertama - BBP2TP Surabaya. http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CC0QFjAA&url=http%3A%2F%2Fditjenbun.deptan.go.id%2Fbbp2tpsur%2Fimages%2Fstories%2Fperbenihan%2Fsereh%2520wangi.pdf&ei=5bXoUKLSGIWCkwW62oGwDw&usg=AFQjCNEbVbYKu6iIl_24buYbLJm1fIWs9g&bvm=bv.1355534169,d.bmk. Diakses  tgl 6 Januari 2013.

Pertanian dan Perkebunan, 2013. Manfaat minyak serai wangi untuk pengendalian penyakit. http://tani-kebun.asgar.or.id/manfaat-minyak-sereh-wangi-untuk-pengendalian-hama-pada-tanaman/. Diakses tgl 6 Januari 2013.

Sri Wahyuni, Hobir dan Yang Nuryani, 2013. Status Pemuliaan Tanaman Serai Wangi (Andropogon Nardus L.). http://minyakatsiriindonesia.wordpress.com/budidaya-serai-wangi/sri-wahyuni-dkk/. Diakses tgl 6 Januari 2013.

 

 

 

Sunday, May 30, 2021

HASIL-HASIL TEKNOLOGI PENELITIAN ULAT GRAYAK


Ayyub Arrahman

Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros


PENDAHULUAN

Jagung merupakan sumber karbohidrat dan protein yang dapat digunakan sebagai bahan pangan , pakan ternak, dan bahan baku untuk industri. Akhir-akhir ini pemgembangan jagung di Indonesia semakin pesat sejalan dengan meningkatnya kebutuhan akan jagung khususnya untuk pakan ternak ( Subandi et al, 2001). Di lain pihak pengembangan jagung yang intensif juga mengakibatkan munculnya berbagai masalah baik penurunan produksi maupun kualitas biji. Penurunan produksi maupun kualitas biji jagung sangat ditentukan oleh faktor abiotik dan biotik, faktor biotik berupa hama dan penyakit.

Wednesday, May 26, 2021


Prosedur Penelitian Double Haploid Menggunakan Aplikasi Kolkisin

Lesty Ayu BidhariBalai Penelitian Tanaman Serealia


Teknologi double haploid menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari banyak program pemuliaan jagung komersial karena galur double haploid menawarkan beberapa keuntungan ekonomi, logistik dan genetik dibandingkan galur bawaan konvensional. Dalam dua sampai tiga dekade terakhir, teknologi double haploid telah muncul sebagai alternatif yang efisien untuk metode tradisional pengembangan galur bawaan. Teknologi ini pada dasarnya mengambil sampel gamet pemisah dari plasma nutfah sumber, biasanya persilangan biparental atau populasi, dan menghasilkan galur homozigot sepenuhnya dalam satu langkah. Metode in vitro dan in vivo dapat digunakan untuk mengembangkan galur double haploid jagung. Namun, metode in vivo telah terbukti lebih andal dan efisien dalam produksi galur double haploid skala besar dan karena itu umumnya digunakan dalam jagung (Chaikam et.al 2019).

Wednesday, January 27, 2021

Prosedur Pengamatan Stomata Tanaman Jagung Haploid dan Diploid


Lesty Ayu Bidhari
Balai Penelitian Tanaman Serealia

Stomata merupakan organ penting bagi tumbuhan. Stomata merupakan organ fotosintesis yang berfungsi secara fisiologis terutama untuk transpirasi dan respirasi selama proses fotosintesis (Palit, 2008). Kerapatan stomata pada tanaman jagung berkorelasi positifdengan intensitas penyakit bulai (Agustamia et al. 2016). Stomata terdapat pada permukaan atas dan bawah daun, namun jumlahnya berbeda.Pada sebagian besar tanaman, jumlah stomata lebih banyak di permukaan bawah daun di bandingkan dengan atas (Campbell et al. 1999). Karakter-karakter penting yang terkait stomata antara lain: seperti jumlah, kerapatan, ukuran, bentuk, panjang-lebar sel penjaga, jumlah kloroplas, jumlah klorofil. Jumlah dan kerapatan stomata sangat dipengaruhi intensitas cahaya, semakin tinggi intensitasnya maka semakin banyak stomata pada kedua permukaan daun (Meriko dan Abizar, 2017). Mengukur panjang sel pelindung stomata adalah metode yang cepat dan akurat untuk mengklasifikasikan tanaman haploid dan diploid (Przywara et al., 1988).Teknik pengangkatan stomata mulai dari cara sederhana menggunakan pewarna kuku hingga penggunaan bahan kimia dan pembuatan preparat permanen sudah banyak dilaporkan. Pewarna kuku yang diulaskan pada permukaan daun sering digunakan untuk mengangkat stomata. Dengan pewarna kuku tersebut, stomata dapat dipertahankan tetap terbuka (Taluta et al. 2017). Prinsip dasar pengamatan stomata adalah dengan mengamati hasil pengambilan epidermis daun dibawah mikroskop.

Tuesday, January 19, 2021

   

Pengelolaan sampah organik menggunakan Black Soldier Fly (Hermetia illucens) /Lalat Tentara Hitam


Amelia Sebayang
Balai Penelitian Tanaman Serealia





Sampah merupakan salah satu permasalahan di banyak negara dan sistem pengelolaannya perlu mendapat perhatian lebih. Di Indonesia berdasarkan data dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Republik Indonesia pada tahun 2020, total timbunan sampah mencapai 64 juta ton setiap tahun yang didominasi oleh sampah organik yakni mencapai 60% dari total sampah. Untuk mengurangi penimbunan sampah maka perlu dilakukan cara pengelolaan sampah yang baik. Berbagai cara pengelolaan sampah organik guna meningkatkan nilai ekonomis telah diusakahan salah satunya dengan pemanfaatan agen dekomposer. Salah satu agen dekomposer yang sedang mendapat perhatian dunia adalah lalat tentara hitam atau dikenal dengan Black Soldier Fly (BSF).

Monday, June 22, 2020

MANFAAT TANAMAN MINDI (Melia azedarach L)


Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros


PENDAHULUAN
Tanaman ini berasal dari daerah himalaya (india) dan sekarang tersebar di seluruh daerah tropis dan  subtropis.  Tanaman  Mindi  dapat  tumbuh  setinggi  9 – 15  m.  Kayu  mindi  sering digunakan sebagai bahan bangunan. Mindi juga sering digunakan sebagai tanaman pelindung di perkebunan kopi dan teh. Buah yang masak akan tetap  tinggal di pohon selama beberapa bulan. Kandungan minyak  di  dalam  bijinya  sampai  40%.  Kandungan  minyak  ini  mengandung  bahan  aktif  alkaloid yang  larut  di  dalam  air.  Minyak  mindi  mengandung carotinoid  dan  meliatin.  Kandungan  bahan aktif  mindi  mirip  seperti  mimba,  yaitu: azadirachtin,  triol,  dan  salanin.  Tanaman  mindi  banyak dimanfaatkan untuk pestisida naba.

Sunday, June 21, 2020

PENGELOLAAN HAMA ULAT GRAYAK


Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros



PENDAHULUAN

Peluang peningkatan produksi jagung dalam negeri masih terbuka lebar, baik melalui peningkatan produktivitas maupun perluasan areal tanam utamanya pada lahan kering di luar Jawa. Meskipun produktivitas  jagung  nasional  meningkat,  namun  secara  umum  tingkat  produkivitas  biji  jagung nasional  masih  rendah  yaitu  baru  mencapai  3,11  t/ha  pada  tahun  2002  (Ditjen  Bina  Produksi Tanaman  Pangan,  2003).  Kegiatan  berbagai  institusi  baik  pemerintah  maupun  swasta  telah mampu  menyediakan  teknologi  produksi  jagung  dengan  tingkat  produktivitas  4,5-10,0  t/ha tergantung  pada  kondisi  lahan  dan  penerapan  teknologinya.    Namun  demikian  target  yang diharapkan  sering  tidak  dapat  dicapai  karena  adanya  berbagai  kendala.  Swastika  et  al  (2004) melaporkan  bahwa  masalah  yang sering dihadapi  dalam  meningkatkan produksi jagung nasional telah diidentifikasi dan dikelompokkan. Salah satu masalah produksi adalah cekaman lingkungan baik cekaman abiotis maupun biotis. Cekaman biotis berupa gangguan hama, gulma, dan penyakit sering  menimbulkan  kehilangan  hasil  yang  cukup  nyata.  Ulat  grayak  (Spodoptera  litura)  dapat merusak tanaman 5% sampai 50% (Metcalf dan Metcalf 1993).

Thursday, April 30, 2020


SERANGGA HAMA WERENG JAGUNG


Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros



PENDAHULUAN
 Dalam budidaya tanaman jagung, kendala yang dapat terjadi adalah adanya gangguan dari hama. Banyak jenis hama yang telah dilaporkan menyerang tanaman jagung (Sudarmo, 1990). Perkembangan hama pada tanaman jagung dapat dipengaruhi oleh banyak faktor lingkungan seperti iklim, pola tanam, varietas rentan, dan faktor biotis seperti parasit dan predator maupun mikroorganisme lainnya.

Wednesday, April 1, 2020

PEMANFAATAN DAUN SIRSAK SEBAGAI PESTISIDA NABATI

 

Ayyub dan M.Sudjak Saenong

Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

 

PENDAHULUAN  Tanaman sirsak (Annona muricata L) cukup potensial untuk digunakan seba-gai bahan pestisida hayati. Daun sirsak mengandung senyawa acetogenin, antara lain asimisin, bulatasin, squamosin, saponin, flavonoid, dan tanin (Plantus 2008) dalam Harsoyo Purnomo dan Afri Utami, 2012).  Senya-wa-senyawa tersebut bersifat toksik, yang dapat mematikan serangga hama tertentu. Namun, untuk menentukan batas aman bagi organisme akuatik bukan sasaran perlu dilakukan pengujian dengan bioassay, untuk menguji toksisitas bahan kimia toksik (alkaloid) yang terdapat di dalam daun sirsak, atau untuk mengukur timgkat bahaya kontaminan bahan  kimia yang terdapat di dalam ekstrak daun sirsak terha-dap organisme akuatik (Harsoyo Purnomo dan Afri Utami, 2012). Kandungan daun sirsak mengandung senyawa acetoginin, antara lain asimisin, bulatacin dan squamosin. Pada konsentrasi tinggi, senyawa acetogenin memiliki keistimewan sebagai anti feedent. Dalam hal ini, serangga hama tidak lagi bergairah untuk melahap bagian tanaman yang disukainya. Sedangkan pada konsentrasi rendah, bersifat racun perut yang bisa mengakibatkan serangga hama menemui ajalnya (Septerina, 2002) dalam Rachmawati Nurjannah, 2012. Acetogenin adalah senyawa polyketides dengan struktur 30–32 rantai karbon tidak bercabang yang terikat pada gugus 5-methyl-2-furanone. Rantai furanone dalam gugus hydrofuranone pada C23 memiliki aktifitas sitotoksik, dan derivat acetogenin yang berfungsi sitotoksik adalah asimicin, bulatacin, dan squamocin (Shidiqi dkk.,2008) dalam Rachmawati Nurjannah, 2012).

Wednesday, February 26, 2020

PENGENDALIAN SITOPHILUS ZEAMAIS DENGAN PESTISIDA NABATI


Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros


PENDAHULUAN

Kumbang bubuk (S. zeamais M) merupakan hama gudang utama di Indonesia. Serangga ini dapat menyerang biji jagung sejak dipertanaman hingga di penyimpanan dalam gudang. Populasi hama meningkat seiring dengan lamanya penyimpanan. Daya simpan dan mutu jagung selama di penyimpanan sangat dipengaruhi oleh kondisi awal biji sebelum disimpan (kadar air, persentase biji rusak atau pecah) dan ruang penyimpanan. Populasi S. zeamais perlu dikendalikan, karena selain mengakibatkan kerusakan biji dan susut bobot juga menyebabkan kadar air meningkat dapat juga menurunkan sebagai hasil respirasi (Surtikanti, 2004) dalam Hasna dan Usamah Hanif, 2012.

Monday, January 27, 2020

 HAMA SITOPHILUS ZEAMAIS PADA BIJI JAGUNG

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Menurut Hasan Basri dkk (2012) Sitophilus pertama kali dikenal pada tahun 1763 di Suriname dan diperkenalkan oleh Linnaeus dengan nama Curculio oryzae. Kemudian namanya diperbaharui menjadi Calandra oryzae dan terakhir diubah menjadi Sitophilus oryzae. Pada tahun 1885 ditemukan Sitophilus zeamais Motschulsky. Beberapa peneliti menyatakan bahwa kedua Sitophilus tersebut merupakan dua spesies yang berbeda, tetapi peneliti yang lainnya menyatakan bahwa keduanya merupakan variasi dari spesies yang sama. Karena kemiripan dan hidupnya yang bersama-sama, dahulu hanya disebut sebagai Sitophilus oryzae. Secara umum S. oryzae lebih kecil daripada S. zeamais.  Keduanya tidak dapat dibedakan baik dari morfologi luar dan ukuran tubuh maupun kesukaan makanannya dilakukan dengan pemeriksaan genitalia (alat kelamin) yaitu aedeagi pada jantan dan sklerit Y pada betina. Serangga jantan dan betina dapat dibedakan dari bentuk moncong atau rostrum. Dilihat dari permukaan dorsal, moncong jantan lebih besar, berbintik-bintik kasar dan kusam. Moncong serangga betina mulus, berbintik–bintik melebar dan licin. Jika moncong dilihat dari atas, pada jantan lebih pendek dan lebar, pada betina lebih panjang dan sempit. Dilihat dari samping moncong betina lebih panjang, kecil dan agak melengkung ke bawah.

Monday, January 20, 2020

Tingkat Kerusakan Ekonomi Hama Kepik Coklat Pada Kedelai


Muhammad Arifin1 dan Wedanimbi Tengkano2

1 Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi 
dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor
2 Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang


ABSTRACT.  Economic Injury Level for The Bean Bug, Riptortus linearis (L.) on Soybean. Decision-making of pest control based on the economic injury level (ElL) was a judicious step to suppress a high risk of the expensive production cost and environmental disturbance. This experiment was conducted to determine the EIL value for the bean bug as a criterion for decision making of pest control using insecticides. The EIL value was determined by the break-even point principle of the pest control, i.e., a balance between the yield loss due to pest control action and cost of the pest control. The results indicated that soybean yield losses due to the bean bug at different bean bug stadia and plant growth stages could be expressed in a linier regression model: y = - 0.007 + 1.746 x (y= yield loss (%); x= bean bug population (bugs/10 hills). At a population range of 0 to 8 bean bugs/10 hills, the higher the population, the higher the yield loss. The EIL value for the bean bug at different bean bug stadia and plant growth stages were expressed in a multiple regression equation: y = 2.328 + 0.008 x1 - 0.717 x2 [y= the EIL value (bugs/10 hills); x1= cost of the
pest control (x Rp 1,000/ha); x2= soybean price (x Rp 1,000/kg). If the cost to control the pest at different plant growth stages was Rp 240,000/ha and the soybean price was Rp 3,000/kg, then the EIL value for the bean bug was 2.1 bugs/10 hills.
Keywords: Bean bug, soybean, economic injury level

Thursday, January 16, 2020

4th International Symposium on Insects (ISoI2020)


The Entomological Society of Malaysia (ENTOMA) is pleased to invite you to participate in the 4th International Symposium on Insects (ISoI2020) that will be held in Penang, Malaysia.  This symposium offers events for 2 days consisting of poster and paper presentation from 23rd -24th March 2020, and post trip on 25th March 2020.  In  line  with  the  theme  “Entomology Beyond 2020”, the conference provides a broad-based platform for delegated to interact,  highlighting  the  knowledge  and  achievement  in worldwide insect studies and unveiling the potential of these creepy crawlers which ultimately benefiting  the  mankind in  term of  economic  stability  via  sustainable  production  and  enhancement of livelihood. Additionally, the full article will be requested from selected papers which will be published in Serangga, a peer-reviewed journal, indexed in ISI Thomson Reuters-ESCI, Scopus, Zoological Record-Web of Science and CABI abstract.

Wednesday, December 18, 2019


HAMA SITOPHILUS ZEAMAIS PADA BIJI JAGUNG

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Menurut Hasan Basri dkk (2012) Sitophilus pertama kali dikenal pada tahun 1763 di Suriname dan diperkenalkan oleh Linnaeus dengan nama Curculio oryzae. Kemudian namanya diperbaharui menjadi Calandra oryzae dan terakhir diubah menjadi Sitophilus oryzae. Pada tahun 1885 ditemukan Sitophilus zeamais Motschulsky. Beberapa peneliti menyatakan bahwa kedua Sitophilus tersebut merupakan dua spesies yang berbeda, tetapi peneliti yang lainnya menyatakan bahwa keduanya merupakan variasi dari spesies yang sama. Karena kemiripan dan hidupnya yang bersama-sama, dahulu hanya disebut sebagai Sitophilus oryzae. Secara umum S. oryzae lebih kecil daripada S. zeamais.  Keduanya tidak dapat dibedakan baik dari morfologi luar dan ukuran tubuh maupun kesukaan makanannya dilakukan dengan pemeriksaan genitalia (alat kelamin) yaitu aedeagi pada jantan dan sklerit Y pada betina. Serangga jantan dan betina dapat dibedakan dari bentuk moncong atau rostrum. Dilihat dari permukaan dorsal, moncong jantan lebih besar, berbintik-bintik kasar dan kusam. Moncong serangga betina mulus, berbintik–bintik melebar dan licin. Jika moncong dilihat dari atas, pada jantan lebih pendek dan lebar, pada betina lebih panjang dan sempit. Dilihat dari samping moncong betina lebih panjang, kecil dan agak melengkung ke bawah.

SERANGGA HAMA GUDANG

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

PENDAHULUAN
Hama Gudang adalah hama yang menyerang komoditas simpanan mempunyai sifat khusus yang berlainan dengan hama yang menyerang tanaman ketika di lapang. Menyerang produk yang baru saja dipanen melainkan juga produk industri hasil pertanian. Produk tanaman yangdisimpan dalam gudang yang sering terserang hama tidak hanya terbatas Hama yang terdapat dalam gudang tidak hanya pada produk bebijian saja melainkan produk yang berupa dedaunan (teh, kumis kucing, dan lain sebagainya) dan kekayuan atau kulit kayu misalnya kayumanis, kulit kina, dan lainnya (Wagianto, 2008) dalam Igoy Gaijin, 2012.