TEKNOLOGI BUDIDAYA TANAMAN SERAI WANGI
Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros
ABSTRAK
Tulisan ini
mengulas beberapa rujukan yang menjelaskan prihal teknologi budidaya tanaman
serai. Didalam tulisan ini juga dijelaskan akan manfaat tanaman serai sebagai
bahan pestisida nabati, komoditas ekport dan status plasma nutfah dari tanaman
serai yang terbaik.
PENDAHULUAN
Nungki Dwi, 2013 : Seiring berkembangnya penduduk dunia, kebutuhan
akan minyak serai wangi semakin meningkat. Di Indonesia sendiri, terdapat 2
jenis tanaman serai yaitu serai dapur (Cymbopogon citratus) dan serai
wangi (Cymbopogon nardus L.)1. Tanaman serai wangi berasal
dari Srilanka dengan kondisi tanah tropis, lembab, cukup sinar matahari dan
memiliki curah hujan yang cukup. Di Srilanka tumbuhan yang hidup secara liar
ini biasanya memiliki nama jenis lenabatu. Pada tahun 1990, jenis serai ini
datang ke Indonesia dan dibudidayakan. Sedangkan jenis lainnya adalah
mahapengiri, yang diyakini masyarakat merupakan tanaman asli Indonesia. Dalam
dunia perdagangan minyak serai wangi mahapengiri yang berasal dari Indonesia
disebut Java citronella oil’s. sementara minyak serai wangi berasal dari
Srilanka yang dihasilkan dari jenis lenabatu disebut Ceylon citronella oil’s1.
Umumnya tidak ada perbedaan yang berarti dari kedua varietas ini. Tanaman serai
berdaun pita, agak kaku, pinggir daun berwarna merah atau ungu, aroma tajam dan
dapat tercium dari jarak yang cukup jauh. Tetapi secara perdagangan, Java
citronella oil’s lebih disukai konsumen Eropa dan Amerika karena mutu dan
karakteristiknya lebih unggul dari jenis Ceylon. Varietas ini dikatakan
memiliki akar yang lebih pendek, daun lebih lebar dan kurang kaku serta hasil
minyak lebih banyak dari varietas lenabatu. Maka, tak heran sekarang, serai
sitronella atau disebut juga “Java Type” dibudidayakan dihampir seluruh Negara
tropic tak kecuali Srilanka.
Edi Rizal, 2013 : Tanaman serai wangi sudah sejak lama dibudidayakan di Indonesia. Jenis yang banyak dikenal adalah mahapengiri dan lenabatu. Tanaman serai wangi memiliki bentuk daun yang lebih lebar dibandingkan bentuk serai wangi biasa. Daunnya membentuk rumpun yang lebih besar dengan jumlah batang lebih banyak. Warna daun lebih tua (hijau tua), sedangkan serai biasa berdaun hijau muda agak kelabu. Tanaman serai wangi memiliki nama ilmiah Cymbopogon nordus L. Klasifikasi tanaman serai wangi sebagai berikut :
Divisi
: Spermatophyta
Sub
divisi
: Angiospermae
Ordo
: Graminales
Famili
: Panicodiae
Genus
: Cymbopogon
Spesies
: Cymbopogon nardus L
Edi Rizal, 2013 : Tanaman
serai wangi memiliki ciri – ciri sebagai berikut :
1. Tumbuh
berumpun.
2. Akar
serabut jumlah cukup banyak, mampu menyerap unsure hara dalam tanahcukup baik
sehingga pertumbuhanya lebih cepat.
3. Daun
pipih memanjang menyerupai alang – alang. Pajang daun mencapai 1 meter
melengkung. Lebar daun bila pertumbuhan normal antara 1 – 2 cm.
4. Bila
daun diremas tercium aroma tajam khas serai wangi.
5. Warna
daun hijau muda hingga hijau kebiru – biruan.
6. Batang
berwarna hijau dan merah keunguan.
Tahapan Budidaya Tanaman Serai Wangi
Nur Fatimah, S.TP, 2013 : Tahapan
budidaya tanaman serai wangi sebagai berikut :
1. Persiapan bibit
2. Pengolahan tanah,
3. Penanaman.
4. Pemeliharan.
5. Peremajaan.
6. Pengendalian hama dan penyakit.
Persiapan Bibit
Nur Fatimah, S.TP, 2013 : Bibit
serai wangi yang digunakan sebagai bahan tanam harus memenuhi beberapa kriteria
antara lain :
1. Bahan tanam harus sehat, dan bebas
dari hama penyakit
2. Bahan tanam berupa rumpun tua,
sekurangnya berumur 1 tahun
3. Bahan tanam (stek) diperoleh dengan
cara memecah rumpun yang berukuran besar namun tidak beruas
4. Sebagian pelepah daun dari stek
dipotong 3 – 5 cm
5. Sebagian akar ditinggalkan sekitar 2,5
cm di bawah leher akar
Pengolahan Lahan
1. Tanah digemburkan dengan cara dicangkul sedalam 35 cm. Dan tanah
yang semula dibawah dibalik ke permukaan
2. Tanah dibersihkan dari rumput atau gulma.
3. Lahan dibiarkan 2 – 3 hari agar tanah dapat melakukan penguapan.
4. Buat bedengan dengan ukuran panjang + 2 m dan lebar + 1,5 cm.
5. Lahan yang miring dibuat terasering agar humus pada permukaan tanah
tidak hanyut atau terbawa oleh air hujan.
6. Seluruh areal pertanaman diberi saluran pembuangan air agar air
tidak menggenang. Hal ini dikarenakan pertumbuhan tanaman serai wangi kurang
baik jika terlalu banyak air.
Persemaian
Nur Fatimah, S.TP, 2013 : Sebelum ditanam, bahan tanam yang berupa bibit sebaiknya disemai
dahulu. Hal ini bertujuan untuk mengurangi faktor kegagalan penanaman di
lapangan. Langkah membuat persemaian adalah sebagai berikut :
1. Tanah dicangkul dan dicampur pasir dengan perbandingan 2 : 1.
2. Buat bedengan dengan ukuran panjang
disesuaikan dengan kondisi lapangan, lebar 80 - 120 cm, dan tinggi 25 – 50.
3. Di atas bedengan diberi pupuk kandang atau kompos secara merata.
4. Bedengan diberi pohon naungan atau diberi atap daun kelapa, alang
dsb.
Penanaman
1. Jarak tanam 100 x 50 cm.
2. Buat lubang tanam dengan ukuran
panjang 30 cm, lebar 30 cm, kedalaman 30 cm.
3. Lubang tanam diberi pupuk kandang +
0,2 kg – 0,3 kg/lubang tanam.
4. Lubang tanam dibiarkan terbuka selama
2 minggu agar mendapat sinar matahari.
5. Tanah bekas cangkulan dimasukkan
kembali ke dalam lubang seperti sediakala.
6. Agar bibit serai wangi tidak banyak
yang mati sebaiknya penanaman dilakukan pada musim hujan.
7. Ambil 2 – 3 bibit serai wangi kemudian
dimasukkan tepat di tengah lubang tanam. Posisi agak miring sekitar 600 - 700
dari permukaan tanah.
8. Timbun bibit dengan tanah bekas galian
lubang lalu tekan merata ke sekeliling tanaman.
9. Penanaman dilakukan pada sore hari.
Pemeliharaan
1. Penyulaman
Penyulaman dilakukan pada saat 2 – 3
minggu HST.
Lakukan penyulaman bila ada tanaman
yang layu, mati atau pertumbuhan kurang sempurna
2. Penyiangan
Pembersihan tanaman dari rumput atau
gulma sebaiknya dilakukan setiap selesai panen.
Selain itu batang serai yang telah
kering juga dibersihkan.
Penyiangan dilakukan pada awal maupun
akhir musim penghujan karena pada waktu itu banyak gulma yang tumbuh.
3. Pembumbunan
Pembumbunan dilakukan bersamaan dengan
penyiangan yang bertujuan untuk memperbaiki aerasi dan drainase tanah, selain
itu juga untuk mencegah air menggenang.
4. Pemupukan
Dosis pemupukan per ha per tahun
adalah 150 – 300 kg urea. 25 – 50 kg TSP dan 125 – 250 kg KCL yang diberikan
berturut-turut sebagai berikut :
Tahap I diberikan 3 kali yaitu : umur
1 bulan (37,5 – 75 kg Urea, 31,25 – 62,5 kg KCL, 20 - 25 kg TSP), umur 6 bulan
(37,5 – 75 kg Urea, 31,25 – 62,5 kg KCl) dan umur 9 bulan ( 75 – 150 kg Urea,
62,5 – 125 kg KCl). Tahap II diberikan 2 kali yaitu : umur 12 bulan ( 75 – 150
kg Urea, 62,5 – 125 kg KCl, 25 – 50 kg TSP) dan pada tahun ke-3 dan ke-4.
Peremajaan
Nur Fatimah, S.TP, 2013 : Masa
produktif tanaman serai wangi yaitu 4 tahun. Yang ditandai dengan berkurangnya
rendemen minyak pada daun. Oleh karena itu, perlu dilakukan peremajaan kembali.
Peremajaan dilakukan dengan cara menanam bibit pada sela-sela atau tengah
barisan dari tanaman lama. Dan dilakukan pada akhir tahun ke-3. Pada akhir
tahun ke-4 tanaman baru telah berumur 1 tahun lalu tanaman lama dibongkar.
Pengendalian Hama Penyakit
Tanaman serai wangi ini relatif tahan
terhadap serangan hama dan penyakit.
Pemanenan
Serai wangi yang siap panen memiliki
ciri-ciri : memiliki 6 – 8 lembar daun tua, daun berwarna hijau tua, daun
beraroma wangi, daun lebih lentur, jika bagian bawah daun ditekuk dengan
perlahan akan terlihat titik-titik minyak keluar dari pori-pori daun.
Tahapan pemanenan serai wangi sebagai
berikut :
1. Pemanenan I dilakukan pada saat
tanaman berumur 7 – 8 bulan. Dan Pemanenan II saat umur 10 – 12 bulan.
2. Setelah tahun ke-2, tanaman memasuki
tanaman produktif sehingga dapat dipanen setiap 3 – 4 bulan sekali.
Penentuan waktu panen memegang kunci
dalam budidaya ini. Panen yang terlambat disamping menyebabkan kadar geraniol
dan sitronelal berkurang, juga menyebabkan sebagian daun layu mengering,
sehingga sebagian minyak hilang. Di lain pihak, panen yang terlalu dini, justru
dapat merusak kondisi tanaman dan minyaknya masih sedikit (Santoso, H.B.)
Serai
wangi baik dipanen pada pagi hari jam 06.00 – 10.00 WIB dan sore hari jam 15.00
– 18.00 dengan menggunakan sabit dan jarak pemangkasan sekitar 3 – 5 cm di atas
pangkal daun dan hasil panen ditumpuk di dekat rumpun tanaman, dan dikemas
dalam bentuk gulungan (Rizal, E. 2011).
Kegunaan Serai Wangi
Tanaman
serai wangi mempunyai beberapa kegunaan salah satunya adalah sebagai vegetasi
konservasi yaitu potensial untuk mencegah terjadinya erosi tanah dan
merehabilitasi lahan-lahan kritis (Anonim, 2007). Tanaman serai terutama batang
dan daun bisa dimanfaatkan sebagai pengusir nyamuk karena mengandung zat-zat
seperti geraniol, metil heptenon, terpen-terpen, terpen-alkohol, asam-asam
organik, dan terutama sitronelal sebagai obat nyamuk semprot. Dan minyak serai
wangi sebagai hasil produksi dari tanaman serai wangi berguna sebagai bahan
bio-aditif bahan bakar minyak (Balittro, 2010).
Koleksi Serai Wangi Unggul
Sri Wahyuni, Hobir dan Yang Nuryani, 2013 : Kedelapan serai wangi tersebut merupakan koleksi yang berasal dari
KP Cimanggu dan termasuk ke dalam tipe Mahapengiri. Dari delapan nomor yang
dievaluasi empat nomor telah dilepas dengan keputusan menteri pertanian Nomor :
627/Kpts/TP/240/ 11/92 tertanggal 3 Nopember 1992 dengan nama serai wangi 1,
serai wangi 2, serai wangi 3, dan serai wangi 4 yang berasal dari tanaman
koleksi dengan kode nomor T-ANG 1, 2, 3 dan 113. Karakter penting dari varietas
yang sudah dilepas tersebut disajikan pada Tabel 8. Tiga nomor lainnya yang
produktivitasnya lebih tinggi belum dilepas. Untuk dapat melepas nomornomor
tersebut, berdasarkan peraturan yang baru, perlu dilakukan pengujian
multilokasi di beberapa daerah produksi.
Sumber : Sri Wahyuni, Hobir dan Yang Nuryani, 2013
DAFTAR PUSTAKA DAN BACAAN
Anonim, 2013. Pemanfaatan Sereh
Wangi Sebagai Tanamam Tumpang Sari Di Perkebunan Jabon. http://kebunsemeru.wordpress.com/2012/02/05/pemanfaatan-sereh-wangi-sebagai-tanamam-tumpang-sari-di-perkebunan-jabon/. Diakses tgl 6
Januari 2013.
Bataviareload, 2013.
Panduan menanam serai. http://bataviareload.wordpress.com/daftar/pertanian/panduan-menanam-serai/.
Diakses tgl 6 Januari 2013.
Edi Rizal, 2013. Pengenalan
Tanaman Serai Wangi. http://edirizal24.blogspot.com/2011/05/psk-budidaya-serai-wangi.html. Diakses tgl 6 Juni 2013.
Ferry, 2013. Minyak Sereh Dapur / Lemongrass Oil. http://ferry-atsiri.blogspot.com/2006/10/minyak-sereh-dapur-lemongrass-oil.html. Diakses tgl 6 Januari 2013.
Foragri, 2013. Upaya Meraih Dollar Dari Citronella Oil http://foragri.blogsome.com/upaya-meraih-dollar-dari-citronella-oil/.
Diakses tgl 6 Januari 2013.
Fujiboga, 2013. http://myblog-alfauzi.blogspot.com/2011/08/minyak-atsiri-teknologi-budidaya-atsiri.html.
Diakses tgl 6 Januari 2013.
Jabatan Pertanian Negeri Perak, 2013. Panduan menanam serai. http://www.pertanianperak.gov.my/jpp/index.php?option=com_content&view=article&id=411:panduan-menanam-serai&catid=68:manual-tanaman.
Diakses tgl 6 januari 2013.
Nungki Dwi, 2013. Minyak serai wangi. http://nungkisyalalala.blogspot.com/2011/12/minyak-serai-wangi-sebagai-minyak.html.
Diakses tgl 6 Januari 2013.
Nur Fatimah, S.TP, 2013. “Serai Wangi : Tanaman Perkebunan Yang
Potensial“. PBT Ahli Pertama - BBP2TP Surabaya. http://www.google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&cad=rja&ved=0CC0QFjAA&url=http%3A%2F%2Fditjenbun.deptan.go.id%2Fbbp2tpsur%2Fimages%2Fstories%2Fperbenihan%2Fsereh%2520wangi.pdf&ei=5bXoUKLSGIWCkwW62oGwDw&usg=AFQjCNEbVbYKu6iIl_24buYbLJm1fIWs9g&bvm=bv.1355534169,d.bmk.
Diakses tgl 6 Januari 2013.
Pertanian dan Perkebunan, 2013. Manfaat
minyak serai wangi untuk pengendalian penyakit. http://tani-kebun.asgar.or.id/manfaat-minyak-sereh-wangi-untuk-pengendalian-hama-pada-tanaman/. Diakses tgl 6 Januari 2013.
Sri
Wahyuni, Hobir dan Yang Nuryani, 2013. Status Pemuliaan Tanaman Serai Wangi
(Andropogon Nardus L.). http://minyakatsiriindonesia.wordpress.com/budidaya-serai-wangi/sri-wahyuni-dkk/. Diakses tgl 6 Januari 2013.