Tuesday, February 28, 2017

Tanaman Rempah  Sebagai Pestisida Nabati Untuk Penanggulangan Hama Kumbang Bubuk Tanaman Jagung

Ayyub Arrahman dan M.Sudjak Saenong

Balai Penelitian Tanaman Serealia Maros

Abstrak
Sumber daya alam plasma nutfah tanaman rempah Indonesia sangat banyak dan beragam yang tumbuh di hampir seluruh wilayah nusantara. Tanaman ini dapat tumbuh dan beradaptasi pada kondisi agroekologi dan agroekosistem yang cukup beragam, mulai dari wilayah yang beriklim kering sampai yang beriklim basah. Pada umumnya pemanfaatan tanaman ini oleh masyarakat  masih terbatas sebagai bahan rempah dan bumbu untuk kuliner, penyedap masakan dan penyedap cita rasa, pada hal potensi senyawa bioaktif yang dikandungnya sangat berguna dan manjur dibuat pestisida nabati untuk membasmi hama dan penyakit tanaman, serta bahan obat kesehatan manusia. Tulisan ini membahas manfaat dan kemanjuran dari beberapa tanaman rempah yakni tanaman sereh, bawang merah, bawang putih, lombok merah, cengkeh, kencur, dan lada sebagai pestsisida nabati dalam berbagai tingkat dosis dan ragam perlakuan. Juga dibahas mengenai kendala dan strategi pengembangannya untuk memberi informasi ilmu dan teknologi  penanggulangan hama kumbang bubuk Sitophius zeamais Motsch pada biji jagung dipenyimpanan. Diharapkan tulisan ini bermanfaat bagi penentu kebijakan, akademisi, peneliti dan praktisi yang punya kompetensi menangani masalah hama kumbang.
Kata kunci: tanaman rempah, hama kumbang bubuk, periode penyimpanan

Monday, February 27, 2017

Efektivitas Trichoderma sp. dan Gliocladium sp. sebagai Agen Biokontrol Hayati Penyakit Busuk Pelepah Daun pada Jagung

Soenartiningsih, Nurasiah Djaenuddin, dan M. Sudjak Saenong
Balai Penelitian Tanaman Serealia
Jl. Dr. Ratulangi No. 274, Maros, Sulawesi Selatan
Email: soenartiningsih@yahoo.com

Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan 
Vol 33, No 2 (2014): Agustus 2014



ABSTRACT. 
Efficacy of Trichoderma sp. and Gliocladium sp. to Control Sheath Blight Disease (Rhizoctonia solani) on Maize. Sheath blight is an important disease in corn. The disease could cause significant yield loss when infection occurs on susceptible varieties. Disease control using the microorganism antagonist is an alternative for disease management. Research was carried out in a laboratory, greenhouse and field from 2010 to 2012. The research objective was to compare several biological agents for controlling sheath blight disease on corn. In vitro laboratory tests identified that out of sixteen isolates of microorganisms, only 3 isolates which had the potency to suppress the pathogen of sheath blight over 50%, namely TT1; TM; and GM. Conidia development among the three isolates of microorganism the highest was by TT1. In the greenhouse, three isolates of microorganisms showed potential of decreasing sheath blight disease up to 70%. The Gliocladium isolates decreases the disease by 53%. Research results from the field indicated the antagonist had decreased sheath blight disease by 67%. Isolates of Trichoderma and Gliocladium fungus could reduce the yield loss by 23% by suppressing the infection of sheath blight disease.

Keywords: Maize, Trichoderma, Gliocladium, antagonist, sheath
blight disease.

The Use of SlNPV as A Biological Agent to Control Cutworm on Soybean

Arifin, M. 1999. The use of SlNPV as a biological agent to control cutworm on soybean. Seminar on Pest Surveillance and Forcasting. Direktorat Bina Perlindungan Tanaman Pangan. Bogor, 31 Januari 1999. 11 p.

Muhammad Arifin
Research Institute for Food Crops Biotechnology, Bogor


INTRODUCTION

Spodoptera litura nuclear-polyhedrosis virus (SlNPV) (Borrelinavirus litura) is one of the insect pathogens infecting cutworm (Spodoptera litura) on soybean. This virus was first discovered in cutworm larvae in Central Lampung (Arifin and Waskito, 1986). Since 1985, experiments on the use of SlNPV to control cutworm were carried out at the now defunct, Bogor Research Institute for Food Crops.
Numerous experiments reported that SlNPV have high biotic potency (Arifin, 1993). As a biological agent, SlNPV is compatible with the integrated pest management (IPM) concept because: (a) its host-specificity only to the soybean cutworm and some other noctuids species, (b) it does not affect predators and parasitoids, and does not upset non-target host, human body, and environment, (c) it may alleviate insecticide resistant problem, and (d) it is compatible with most other control methods (Maddox, 1975; Starnes et al., 1993). There are several major reasons whySlNPV is suitable for a biological agent to control cutworm: (a) cutworms is a major pest attacking various kinds of vegetable and food crops, (b) considerable amount of broadspectrum, toxic, synthetic insecticides are used against cutworm, and (c) many cutworms are resistant to most major insecticides group. Efforts to develop SlNPV as a biological control agent can be conducted in three steps: (a) production of SlNPV, (b) solve the constraints affecting the effectiveness ofSlNPV, and (c) optimizing application techniques of SlNPV.
The purpose of this paper is to provide information on biological properties, production, and application techniques of SlNPV as a guidance in the control of cutworm on soybean.

Thursday, February 16, 2017

Pemanfaatan Musuh Alami dalam Pengendalian Hama Utama Tanaman Teh, Kopi, dan Kelapa

Arifin, M. 1999. Pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama utama tanaman teh, kopi, dan kelapa. Seminar Pemasyarakatan PHT Tanaman Perkebunan. Dinas Perkebunan Kabupaten Bogor, 4-5 Agustus 1999. 19 p.


Muhammad Arifin
Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan


PENDAHULUAN
Pada tanaman perkebunan sering dijumpai berbagai jenis serangga. Tidak semua jenis serangga tersebut berstatus hama. Beberapa jenis di antaranya justru merupakan serangga berguna, misalnya penyerbuk dan musuh alami (parasitoid dan predatcr). Ada juga jenis serangga berstatus tidak jelas karena hanya berasosiasi saja di pertanaman.
Ada ratusan jenis serangga berstatus hama pada tanaman perkebunan. Kehadiran serangga tersebut tidak selalu merugikan, sehingga tidak diperlukan pengendalian. Meskipun demikian, pertumbuhan populasinya harus diwaspadai agar tidak terjadi lonjakan yang mengarah ke eksplosi. Tidak terjadinya gangguan hama pada pertanaman karena populasinya terkendali secara alami, baik oleh faktor abiotis, misalnya iklim yang tidak mendukung, maupun oleh faktor biotis, misalnya tidak tersedianya sumber pakan dan berlimpahnya populasi musuh alami.
Di antara serangga-serangga hama, ada yang dikelompokkan sebagai hama utama karena memiliki potensi biotik (daya reproduksi, daya makan atau daya rusak, dan daya adaptasi) yang tinggi. Hama tersebut selalu mengakibatkan kehilangan hasil panen yang relatif tinggi sepanjang tahun, bahkan sering dilaporkan mengalami eksplosi, apabila kondisi lingkungan mendukung. Untuk mengendalikannya, petani pada umumnya menggunakan pestisida (kimiawi) yang diaplikasikan secara terjadual dengan frekuensi tinggi, tanpa memperhatikan keadaan populasi di lapang. Penggunaan insektisida menjadi berlebihan sehingga seringkali tidak mengenai sasaran, bahkan dapat menimbulkan dampak negatif baik terhadap pendapatan petani, maupun lingkungan, seperti musnahnya serangga berguna dan munculnya gejala resurgensi dan resistensi hama. Cara tersebut dilakukan karena belum tersedia cara pengendalian lain yang efektif dan tidak berdampak negatif di tingkat petani.

Thursday, March 3, 2016

PROSIDING SNKP2014

KETAHANAN PANGAN : REKAYASA TEKNOLOGI DAN TRANSFORMASI SOSIAL EKONOMI BERBASIS KEARIFAN LOKAL
YOGYAKARTA, 8 OKTOBER 2014 

LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT UNIVERSITAS MERCU BUANA YOGYAKARTA




PEMANFAATAN GULMA BABADOTAN DAN TEMBELEKAN DALAM PENGENDALIAN Sitophillus SPP. PADA BENIH JAGUNG 

Dian Astriani 
Program Studi Agroteknologi Fakultas Agroindustri Universitas Mercu Buana Yogyakarta 

Abstract 

Bioactivity of botanical pesticide from weed was studied to find the most effective botanical pesticide for controlling Sitophilus spp. and maintaining the corn seed viability in storage. The research was a single factor experiment arranged in Completely Randomized Design. The experiment factor was kind and dose of botanical pesticide. The treatments of the experiment consisted of Ageratum conyzoides (goatweed) and Lantana camara (common lantana) in the doses of 2% ; 4% and 6 % respectively, and application without pesticide as a control. Botanical pesticide was in powder formulation. The reasearch consisted of two steps, the first was toxicity test of botanical pesticide in the storage for 70 days, and the second was seed viability test after storag for 70 days. The results showed that goatweed botanical pesticide 6% was the most effective botanical pesticide to control Sitophilus spp. and maintain the corn seed for 70 days in storage, compared with goatweed botanical pesticide at the doses of 2% and 4%, and also common lantana botanical pesticide in the doses of 2%, 4% or 6%. Key words : goatweed, common lantana, Sitophillus spp., corn seed

KAJIAN DAYA INSEKTISIDA EKSTRAK DAUN MIMBA (Azadirachta indica A. Juss) DAN EKSTRAK DAUN MINDI (Melia azedarach L. ) TERHADAP PERKEMBANGAN SERANGGA HAMA GUDANG Sitophilus zeamais Motsch. 


DESSY SONYARATRI 

FAKULTAS TEKNOLOGI PERTANIAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR 


ABSTRAK Penyimpanan bahan pangan merupakan salah satu tahap pengolahan pasca panen yang masih mengalami kendala. Kerusakan di tingkat penyimpanan umumnya disebabkan oleh serangan hama gudang seperti serangga, tungau, tikus dan kapang. Diantara hama-hama gudang, serangga menyebabkan kerusakan terbesar. Sitophilus zeamais merupakan salah satu serangga hama pasca panen yang penting. Serangga tersebut dapat berkembang biak dan menimbulkan kerusakan pada berbagai jenis serealia termasuk gabah, beras dan jagung. Dari berbagai cara pengendalian hama pasca panen yang paling efisien dan umum dilakukan adalah cara kimia dengan menggunakan insektisida sintetis. Insektisida sintetis dirasakan efektif karena penggunaannya mudah serta spektrum daya bunuhnya yang luas. Namun cara tersebut mempunyai banyak kekurangan antara lain resiko keamanan pangan (bahaya residu), timbulnya resistensi serangga hama pasca panen terhadap beberapa insektisida, serta residu di tanah, air dan udara yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan hidup (Kartasapoetra, 1993). 





Monday, February 29, 2016

EFEKTIVITAS EKSTRAK BAWANG PUTIH TERHADAP MORTALITAS Sitophilus zeamais M. PADA JAGUNG DI PENYIMPANAN


Hasnah dan Usamah Hanif
ABSTRACT
The objective of study was to determine the effective concentration of garlic extract in controlling S.zeamais on maize in storage. Concentrations of garlic extract tested were 2 percent, 4 percent, 6 percent, 8 percent, 10 percent, and 12 percent. The results showed that garlic extracts were potential as plant-based insecticide, indicated by a positive effect of garlic extract on S. zeamais mortality, the average time of S. zeamais death, the maize kernel damage and the number of S. zeamais progeny. Concentration of 12 percent gave the highest mortality rate of S. zeamais, the fastest average time ofS. zeamais death, the lowest maize kernel damage and the lowest number of S. zeamais progeny, while the concentration of 2 percent gave the lowest mortality rate of  S. zeamais, the longest average time of S. zeamais death, the highest percentage of kernel damage, and the highest number of S. zeamais progeny.
Keywords : Sitophilus zeamais, garlic, maize

Monday, February 22, 2016

Hama Utama Tanaman Kacang Tanah: Bioekologi dan Cara Penanggulangannya


Arifin, M. 1999. Hama utama tanaman kacang tanah: bioekologi dan cara penanggulangannya. Pelatihan Perbanyakan Benih Surnber Varietas Unggul Kacang Tanah dan Transfer Teknologi kepada Petani Penangkar Benih. Kerjasama Puslitbangtan dan BPTP Jawa Barat di Surade, Sukabumi, 2-8 Maret 1999. 14 p.

Muhammad Arifin
Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan (Balitbio)



PENDAHULUAN

Ada ratusan jenis serangga yang berasosiasi dengan tanaman kacang tanah di Indonesia. Di antaranya, ada yang berstatus hama, predator, parasitoid, dan ada pula yang berstatus nontarget. Beberapa jenis serangga hama sering dijumpai di pertanaman dalam jumlah yang berlimpah dan mengakibatkan kehilangan hasil panen sehingga dikelompokkan sebagai hama utama.

Teknik Produksi dan Pemanfaatan Musuh Alami dalam Pengendalian Hama Tanaman Perkebunan


Arifin, M. 1999. Teknik produksi dan pemanfaatan musuh alami dalam pengendalian hama tanaman perkebunan. Pertemuan Pembahasan Teknis Perlindungan Tanaman, Direktorat Proteksi Tanaman, Direktorat Jendral Perkebunan. Bogor, 26-29 Juli 1999. 13 p.

Muhammad Arifin
Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Bogor


PENDAHULUAN

Ekosistem perkebunan umumnya bersifat relatif lebih stabil bila dibandingkan dengan ekosistem tanaman semusim. Ekosistem perkebunan dicirikan oleh diversitas struktur komunitas yang relatif tinggi. Susunan jala makanan (food web) pada ekosistem ini bersifat kompleks sehingga populasi suatu jenis organisme (khususnya yang berstatus hama) berada dalam keadaan seimbang, jarang terjadi eksplosi. Ekosistem perkebunan dapat dipertahankan stabil dengan cara memanipulasi lingkungan, sehingga tercipta kondisi yang menguntungkan bagi spesies-spesies untuk saling berinteraksi dalam ekosistem.

Friday, February 19, 2016

Lycosa pseudoannulata: Laba-laba Pemangsa Serangga Hama Kedelai

Arifin, M. 2005. Lycosa pseudoannulata: laba-laba pemangsa serangga hama kedelai. Berita Puslitbangtan. 32: 8-9.


Muhammad Arifin
Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor


Ada 111 jenis serangga hama kedelai di Indonesia. Beberapa jenis di antaranya berstatus penting, antara lain lalat kacang (Ophiomyia phaseoli), kumbang kedelai (Phaedonia inclusa), ulat grayak (Spodoptera litura), ulat iengkal (Chrysodeixis chalcites), pemakan polong (Helicoverpa armigera), kepik coklat (Riptortus linearis), kepik hijau (Nezara viridula), kepik punggung bergaris (Piezodorus hybneri), dan penggerek polong (Etiella zinckenella). Selain serangga hama, pada pertanaman kedelai juga dapat dijumpai berbagai jenis arthropoda berguna, antara lain musuh alami (pemangsa dan parasitoid) dan penyerbuk.
Lycosa pseudoannulata Boes. et Str. (Araneae: Lycosidae) merupakan salah satu jenis laba-laba musuh alami yang sering dijumpai pada pertanaman padi dan palawija setelah padi di lahan sawah irigasi. Laba-laba yang dikenal petani sebagai "Lycosa" ini bersifat generalis karena memiliki mangsa berbagai jenis serangga, terutama yang berstatus hama. Peranannya sebagai musuh alami dalam ekosistem pertanian sangat penting, bahkan diperhitungkan dalam pengambilan keputusan pengendalian hama dengan insektisida.

Wednesday, February 17, 2016

Virus Patogen SlNPV, Efektif Mengendalikan Ulat Grayak Kedelai

Arifin, M. dan Bedjo. 2005. Virus patogen SlNPV, efektif mengendalikan ulat grayak kedelai. Berita Puslitbangtan. 34: 9-10.

Muhammad Arifin1 dan Bedjo2
1 Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor
2 Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang


Spodoptera litura nuclear-polyhedrosis virus (SlNPV) merupakan salah satu jenis patogen serangga yang menginfeksi ulat grayak (Spodoptera litura) pada berbagai jenis tanaman pangan, sayuran, dan industri. Virus ini ditemukan pertama kali oleh penulis pada pertanaman kedelai di daerah Brebes dan Lampung Tengah pada tahun 1985. Mulai saat itu, penelitian untuk memanfaatkannya sebagai agensia pengendalian hayati ulat grayak terus dilakukan secara intensif hingga diperoleh bioinsektisida SlNPV yang efektif (Arifin 2002).
Bioinsektisida SlNPV diproduksi melalui tiga tahap kegiatan, yaitu a) pembiakan masal ulat grayak dengan pakan buatan, b) perbanyakan SlNPV secara in vivo melalui inokulasi, koleksi ulat mati, ekstraksi, sentrifugasi, standarisasi, dan (c) formulasi SlNPV dalam bentuk tepung (wettable powder). Bioinsektisida SlNPV ini berkonsentrasi 3,0 X 108 polyhedra inclusion bodies (PIBs)/g dan berbahan aktif polyhedra 0,3% (1 mg= 1 X 108 PIBs). Dosis aplikasinya 500 g/ha.


Sari: Ubi Jalar Genjah dan Tahan Penyakit Kudis

Rahayuningsih, St.A. dan M. Arifin. 2004. Sari: ubi jalar genjah dan tahan penyakit kudis. Berita Puslitbangtan. 31: 13-15.

St. A. Rahayuningsih1 dan Muhammad Arifin2
1 Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang
2 Balai Besar Litbang Bioteknologi dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor


Sejak tahun 1977 hingga saat ini, baru 12 varietas unggul ubi jalar yang dihasilkan oleh Badan Litbang Pertanian, relatif sedikit dibanding varietas unggul tanaman pangan lainnya. Hal ini disebabkan, antara lain oleh rendahnya prioritas penelitian ubi jalar, banyaknya parameter seleksi seperti tipe tanaman, bentuk, warna kulit dan daging umbi, kandungan nutrisi, rasa dan tekstur umbi serta tingkat ketahanan terhadap hama/penyakit (Yusuf et al. 2001), dan rendahnya penyerapan petani terhadap informasi teknologi baru.
Varietas Sari (MIS 104-1) adalah salah satu varietas unggul nasional yang dilepas pada tahun 2001. Berasal dari persilangan antara varietas lokal Genjah Rante (kandungan β-karoten tinggi) dengan varietas Lapis (hasil umbi tinggi), varietas Sari disukai oleh banyak petani, seperti terbukti dari makin meluasnya areal tanam, terutama di Jawa Timur.


Perkembangan Populasi Wereng Batang Coklat Nilaparvata lugens Stal dan Predatornya pada Berbagai Teknik Budidaya Padi

Arifin, M., I.B.G. Suryawan, B.H. Priyanto, dan A. Alwi. 1997. Perkembangan populasi wereng batang coklat Nilaparvata lugens Stal dan predatornya pada berbagai teknik budidaya padi. Jurnal Penelitian Pertanian, Fakultas Pertanian UISU. 16(1): 24-32.

Muhammad Arifin1, Ida Bagus Gde Suryawan2,
Budi Hari Priyanto3, dan Asnimar Alwi4

1 Balai Penelitian Bioteknologi Tanaman Pangan, Bogor,
2 Instalasi Pengkajian Teknologi Pertanian Denpasar,
3 Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Bogor,
4 Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat, Bogor


Abstract

Development of Brown Planthopper, Nilaparvata lugens Stal Population and Its Predators at Different Cultural Techniques of Rice Production.  An experiment was conducted in irrigated rice field with a rice-rice cropping pattern in Pemalang district 1995/1996 planting season. The objective was to select a cultural technique that could stabilize brown planthopper (BPH) population. The experiment used a sub-sample design with a two-stage sampling method and a visual observation method of insect population. There were four treatment combinations of planting time (simultaneous and unsimultaneous) and insecticide (with and without insecticide application). Results indicated that during the planting season, the BPH population was relatively stable and fluctuated at a low level, i.e 3.1 - 10.5 hoppers/15 hills, and the predator population fluctuated at a high level, i.e. 9.8 - 23.1 predators/15 hills). At unsimultaneous planting time and without insecticide application, BPH and predator population were higher than those at simultaneous planting time and with insecticide application. At unsimultaneous planting time, the BPH population just before harvest was significantly increased. Therefore, it was suspected that the population would explode in the next planting season. It was concluded that the cultural technique with a combination of simultaneous planting time and without insecticide application was suitable to be applied at the time and location or the experiment. The insecticide application, especially at an unsimultaneous planting time, decreased farmer income and gave opportunity to BPH to explode.
Keywords:  Cultural technique, rice, predator, brown planthopper.

Tingkat Kerusakan Ekonomi Hama Kepik Coklat pada Kedelai

Arifin, M. dan W. Tengkano. 2008. Tingkat kerusakan ekonomi hama kepik coklat pada kedelai. Jurnal Penelitian Pertanian Tanaman Pangan. 27(1): 47-54.


Muhammad Arifin1 dan Wedanimbi Tengkano2
1 Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi 
dan Sumberdaya Genetik Pertanian, Bogor
2 Balai Penelitian Tanaman Kacang-kacangan dan Umbi-umbian, Malang


ABSTRACT.  Economic Injury Level for The Bean Bug, Riptortus linearis (L.) on Soybean. Decision-making of pest control based on the economic injury level (ElL) was a judicious step to suppress a high risk of the expensive production cost and environmental disturbance. This experiment was conducted to determine the EIL value for the bean bug as a criterion for decision making of pest control using insecticides. The EIL value was determined by the break-even point principle of the pest control, i.e., a balance between the yield loss due to pest control action and cost of the pest control. The results indicated that soybean yield losses due to the bean bug at different bean bug stadia and plant growth stages could be expressed in a linier regression model: y = - 0.007 + 1.746 x (y= yield loss (%); x= bean bug population (bugs/10 hills). At a population range of 0 to 8 bean bugs/10 hills, the higher the population, the higher the yield loss. The EIL value for the bean bug at different bean bug stadia and plant growth stages were expressed in a multiple regression equation: y = 2.328 + 0.008 x1 - 0.717 x2 [y= the EIL value (bugs/10 hills); x1= cost of the
pest control (x Rp 1,000/ha); x2= soybean price (x Rp 1,000/kg). If the cost to control the pest at different plant growth stages was Rp 240,000/ha and the soybean price was Rp 3,000/kg, then the EIL value for the bean bug was 2.1 bugs/10 hills.
Keywords: Bean bug, soybean, economic injury level